Voluntree

Voluntree

Rabu, 22 September 2010

INFORMASI TERKINI KEGIATAN RANGKAIAN HUT PMI KE 65 TK. KOTA BOGOR

1. LOMBA : (a) GAMBAR/ MEWARNAI( Untuk SD), (b) PADUSA (Untuk tingkat mula, madya dan wira) (c) Mading (Madya dan wira) PENDAFTARAN TERAKHIR 28 SEPT. Pelaksanaan lomba Minggu 3 Oktober 2010
2. LOMBA TRAVELING KEPALANG MERAHAN (MADYA DAN WIRA) PENDAFTARAN SAMPAI DENGAN 7 OKTOBER, TEKNIKAL MEETING 7 OKTOBER PUKUL 13.30 PELAKSANAAN LOMBA MINGGU 10 OKTOBER 2010 (10-10-2010) PUKUL 08.00
3. GERAK JALAN SEHAT (UMUM) MINGGU 17 OKTOBER 2010 WAKTU PUKUL 06.00 STAR PLAZA BALAI KOTA BOGOR FINISH PMI KOTA BOGOR (JL KRESNA RAYA LAPANGAN INDRAPRASTA) Baca selengkapnya...

PETUNUJK TEKNIS LOMBA TRAVELING KEPALANG MERAHAN

I. TINGKAT MADYA
1. GERAKAN
a. Membedakan Logo/ Lambang gerakan, bukan gerakan dan penggunaan lambang gerakan yang salah

b. Sejarah PMI

2. DONOR DARAH SEKOLAH (DORAS)
a. Syarat-syarat Menjadi Donor Darah
b. Peran PMR Madya
3. KEPEMIMPINAN
1. Tugas tim adalah berpindah tempat dari sisi yg satu ke sisi yg sebelahnya, dengan melewati media yg sudah disiapkan.
2. Aturan mainnya :
a. Satu lubang/kotak hanya diperbolehkan di leweti oleh 1 orang.
b. Ketika ada 1 anggota tim yg menyentuh media, maka orang tersebut dinyatakan gagal.
c. Ketika anggota lain ada yg menyentuh pada saat membantu rekannya menyebrangi rintangan, maka yg di anggap gagal adalah orang yg menyebrang & orang yg menyentuh tsb juga tidak berhak melanjutkan aktifitas/dinyatakan gagal pula.

Waktu yang disediakan maksimal adalah 15 menit.
NO URUTAN TINDAKAN Nilai DTS
1 Analisa masalah 100 50
2 Perencanaan 100 50
3 Pembagian tugas 100 50
4 Pelaksanaan 100 0
5 Pengawasan 100 50
6 Kerjasama tim 100 50
7 Fungsi Pemimpin 100 50
8 Manajemen waktu 100 50
9 Jumlah orang yg berhasil orang X 100 poin

4. KESEHATAN REMAJA
T H E M A yang Dibawakan :

1. Tumbuh Kembang Remaja
2. Pengembangan Potensi Diri
3. Norma Sosial
4. Prilaku Beresiko

NO URUTAN TINDAKAN Nilai DTS
1 Membuka pembicaraan 100 50
2 Penekanan intonasi suara 100 50
3 Kemampuan memberi pertanyaan 100 50
4 Kemampuan menyimpulkan 100 50
5 Kemampuan mengakhiri pembicaraan 100 50
6 Gerak Tubuh (sesuai dg penjelasan yg disampaikan) 100 50
7 Mimik Wajah & Kontak mata 100 50
8 Kemampuan menguraikan isi/maksud 100 50
9 Penguasaan media/alat/bahan peraga 100 50
10 Management waktu 100 50



5. SIAGA BENCANA
A. Upaya Kesiapsiagaan/pencegahan Bahaya Tanah Longsor

B. Upaya Kesiapsiagaan/pencegahan Bahaya Kebakaran

NO URUTAN TINDAKAN Nilai DTS
1 Membuka pembicaraan 100 50
2 Penekanan intonasi suara 100 50
3 Kemampuan memberi pertanyaan 100 50
4 Kemampuan menyimpulkan 100 50
5 Kemampuan mengakhiri pembicaraan 100 50
6 Gerak Tubuh (sesuai dg penjelasan yg disampaikan) 100 50
7 Mimik Wajah & Kontak mata 100 50
8 Kemampuan menguraikan isi/maksud 100 50
9 Penguasaan media/alat/bahan peraga 100 50
10 Management waktu 100 50

6. REMAJA SEHAT PEDULI SESAMA (Perawatan Keluarga)
NO URUTAN TINDAKAN
A MENCUCI TANGAN
1 Lepaskan Perhiasan di tangan
2 Gulung Lengan baju sampai di atas siku
3 Basahi Tangan sampai siku
4 Ambil Sabun dari tempatnya dan membasahinya
5 Sabuni tangan sampai ke siku
6 Sabun di siram air terlebih dahulu kembalikan ke tempatnya
Mulai membersihkan secara berurutan :
7 Telapak tangan
8 Sela-sela jari
9 Kuku
10 Punggung tangan
11 Pergelangan tangan
12 Lengan bawah hingga ke siku
13 Bilas dengan air hingga bersih
14 Keringkan tangan dengan handuk kecil/lap
CARA MENJELASKAN
B Memakai celemek
1 Pegang tali Penggantung dan masukkan ke kepala
2 Pegang bagian sisi celemek dari atas Ke arah tali kiri & kanan
3 Mengikat tali dengan ikatan yg mudah dilepas
4 CARA MENJELASKAN
C Menggantung Celemek :
1 Tanpa memegang bagian luar celemak melepas tali belakang
2 Memegang Tali bagian leher dan mengantungnya
3 Menggantungkan :dengan ketentuan : Didalam kamar Bagian Luar diluar/ Diluar kamar Bagian luar di dalam
4 CARA MENJELASKAN

7. PERTOLONGAN PERTAMA (madya)
No. TINDAKAN KEADAAN

A PENILAIAN KEADAAN
1 Tanya kondisi KECELAKAAN
2 Memperkenalkan diri
3 Meminta izin SILAHKAN
4 Tanya keadaan AMAN
5 Meminta menjadi saksi BERSEDIA
6 Menanyakan identitas saksi Saya …..
7 Menanyakan jumlah korban SATU ORANG
8 Memakai APD
B PENILAIAN DINI
1 Respon panggil ( ASNT) Tidak Ada
2 Meminta pertolongan (ambulance)
3 Bebaskan jalan nafas
4 Lakukan LDR ( 5 detik) Nafas Ada
5 Menyadarkan Pasien Pasien Sadar
6 tenangkan & minta izin pd Pasien Ya
C PEMERIKSAAN FISIK
1 Kepala belakang-atas AMAN
2 Pelipis kanan-kiri AMAN
3 Dahi
4 Pipi kanan-kiri AMAN
5 Dagu AMAN
6 Mata kanan/ kiri AMAN
7 Hidung AMAN
8 Mulut AMAN
9 Telinga kanan - kiri AMAN
10 Leher depan- belakang AMAN
11 Bahu kanan-kiri AMAN
12 Tulang rusuk kanan-kiri AMAN
13 Dada kanan-kiri AMAN
14 Perut kwadran atas kanan-kiri AMAN
15 Perut kwadran bawah kanan-kiri AMAN
16 Panggul kanan-kiri AMAN
17 Tungkai atas kanan-kiri AMAN
18 Lutut kanan-kiri AMAN
19 Tungkai bawah kanan-kiri AMAN
20 Pergelangan kaki kanan-kiri AMAN
21 Telapak kaki kanan-kiri AMAN
22 Punggung kaki kanan-kiri AMAN
23 Jari-jari kaki kanan-kiri AMAN
24 Melakukan GSS AMAN
25 Lengan atas kanan - kiri AMAN
26 Siku kanan - kiri AMAN
27 Lengan bawah kanan-kiri GANGGUAN
28 Pergelangan tangan kanan-kiri AMAN
29 Telapak tangan kanan-kiri AMAN
30 Punggung tangan kanan-kiri GANGGUAN
31 Jari-jari tangan kanan-kiri AMAN
32 Melakukan GSS AMAN
33 Punggung atas kanan kiri AMAN
34 Punggung bawah kanan-kiri AMAN
F PEMERIKSAAN TANDA VITAL
1 Memeriksa nafas Ya
2 Memeriksa denyut nadi Ya
3 Memeriksa suhu tubuh Ya
4 Memeriksa Perfusi Ya
5 Memeriksa Kondisi/ warna kulit Ya
6 Pemeriksaan Berkala/ Pertolongan yg di berikan Ya
G WAWANCARA KOMPAK
1 Keluhan utama? CIDERA
2 Obat yang diminum? TIDAK ADA
3 Makan/minum terakhir? TIDAK ADA
4 Penyakit yang diderita? TIDAK ADA
5 Alergi yang diderita? TIDAK ADA
6 Kejadian yang dialami korban? KECELAKAAN
7 Selimuti Korban
8 PELAPORAN Meyerahkan kartu luka
9 Merekomendasikan segera evakuasi ke RS
JUMLAH

PENANGANAN KASUS
No. TINDAKAN KEADAAN

A KASUS LUKA ROBEK PADA LENGAN BAWAH KIRI
1 Tutup dan tekan luka
2 Tinggikan lebih atas dari jantung
3 Tekan sampai perdarah terkendali
4 Pertahankan penutup luka dan balut
5 CARA MENJELASKAN
B KASUS LUKA BAKAR TINGKAT I PADA PUNGGUNG TANGAN KANAN
1 Alirkan air dingin
2 Tutup dengan balutan
3 CARA MENJELASKAN
JUMLAH
Keterangan: MB:Melakukan Benar MS:Melakukan Salah TM: Tidak Melakukan


II. TINGKAT WIRA

1. GERAKAN
a. Membedakan Logo/ Lambang gerakan, bukan gerakan dan penggunaan lambang gerakan yang salah

b. Sejarah PALANG MERAH INTERNASIONAL

2. DONOR DARAH SEKOLAH (DORAS)
a. Syarat-syarat Menjadi Donor Darah
b. Peran PMR WIRA

3. KEPEMIMPINAN
FLYING WEB (wira)
1. Tugas tim adalah berpindah tempat dari sisi yg satu ke sisi yg sebelahnya, dengan melewati media yg sudah disiapkan.
2. Aturan mainnya :
a. Satu lubang/kotak hanya diperbolehkan di tempati oleh 1 orang. ( Baik 1 kaki maupun 2 kaki hitungan nya 1 orang )
b. Ketika ada 1 anggota tim yg menyentuh media, maka orang tersebut dinyatakan gagal.
c. Ketika anggota lain ada yg menyentuh pada saat membantu rekannya menyebrangi rintangan, maka yg di anggap gagal adalah orang yg menyebrang & orang yg menyentuh tsb juga tidak berhak melanjutkan aktifitas/dinyatakan gagal pula.
d. Lubang/kotak tidak diwajibkan seluruhnya untuk di tempati.
3. Waktu yang disediakan maksimal adalah 15 menit.

NO URUTAN TINDAKAN Nilai DTS
1 Analisa masalah 100 50
2 Perencanaan 100 50
3 Pembagian tugas 100 50
4 Pelaksanaan 100 0
5 Pengawasan 100 50
6 Kerjasama tim 100 50
7 Fungsi Pemimpin 100 50
8 Manajemen waktu 100 50
9 Jumlah orang yg berhasil orang X 100 poin

4. KESEHATAN REMAJA
T E M A yang Dibawakan :
a. Alat & Fungsi Reproduksi
b. Pacaran yg Aman & Sehat
c. Kehamilan Dini & Aborsi
d. Pengetahuan Tentang HIV/AID
NO URUTAN TINDAKAN Nilai DTS
1 Membuka pembicaraan 100 50
2 Penekanan intonasi suara 100 50
3 Kemampuan memberi pertanyaan 100 50
4 Kemampuan menyimpulkan 100 50
5 Kemampuan mengakhiri pembicaraan 100 50
6 Gerak Tubuh (sesuai dg penjelasan yg disampaikan) 100 50
7 Mimik Wajah & Kontak mata 100 50
8 Kemampuan menguraikan isi/maksud 100 50
9 Penguasaan media/alat/bahan peraga 100 50
10 Management waktu 100 50

5. SIAGA BENCANA
A. Upaya Kesiapsiagaan/pencegahan Bahaya Banjir
B. Upaya Kesiapsiagaan/pencegahan Bahaya Gempa Bumi

NO URUTAN TINDAKAN Nilai DTS
1 Membuka pembicaraan 100 50
2 Penekanan intonasi suara 100 50
3 Kemampuan memberi pertanyaan 100 50
4 Kemampuan menyimpulkan 100 50
5 Kemampuan mengakhiri pembicaraan 100 50
6 Gerak Tubuh (sesuai dg penjelasan yg disampaikan) 100 50
7 Mimik Wajah & Kontak mata 100 50
8 Kemampuan menguraikan isi/maksud 100 50
9 Penguasaan media/alat/bahan peraga 100 50
10 Management waktu 100 50



6. PERTOLONGAN PERTAMA (wira)

No. TINDAKAN KEADAAN

A PENILAIAN KEADAAN
1 Tanya kondisi KECELAKAAN
2 Memperkenalkan diri
3 Meminta izin SILAHKAN
4 Tanya keadaan AMAN
5 Meminta menjadi saksi BERSEDIA
6 Menanyakan identitas saksi Saya …..
7 Menanyakan jumlah korban SATU ORANG
8 Memakai APD
B PENILAIAN DINI
1 Respon panggil ( ASNT) Tidak Ada
2 Meminta pertolongan (ambulance)
3 Bebaskan jalan nafas
4 Lakukan LDR ( 5 detik) Nafas Ada
5 Menyadarkan Pasien Pasien Sadar
6 tenangkan & minta izin pd Pasien Ya
C PEMERIKSAAN FISIK
1 Kepala belakang-atas AMAN
2 Pelipis kanan-kiri AMAN
3 Dahi AMAN
4 Pipi kanan-kiri AMAN
5 Dagu AMAN
6 Mata kanan/ kiri AMAN
7 Hidung AMAN
8 Mulut AMAN
9 Telinga kanan - kiri AMAN
10 Leher depan- belakang AMAN
11 Bahu kanan-kiri AMAN
12 Tulang rusuk kanan-kiri AMAN
13 Dada kanan-kiri AMAN
14 Perut kwadran atas kanan-kiri AMAN
15 Perut kwadran bawah kanan-kiri AMAN
16 Panggul kanan-kiri AMAN
17 Tungkai atas kanan-kiri AMAN
18 Lutut kanan-kiri AMAN
19 Tungkai bawah kanan-kiri GANGGUAN
20 Pergelangan kaki kanan-kiri AMAN
21 Telapak kaki kanan-kiri AMAN
22 Punggung kaki kanan-kiri AMAN
23 Jari-jari kaki kanan-kiri AMAN
24 Melakukan GSS AMAN
25 Lengan atas kanan - kiri AMAN
26 Siku kanan - kiri GANGGUAN
27 Lengan bawah kanan-kiri AMAN
28 Pergelangan tangan kanan-kiri AMAN
29 Telapak tangan kanan-kiri AMAN
30 Punggung tangan kanan-kiri AMAN
31 Jari-jari tangan kanan-kiri AMAN
32 Melakukan GSS AMAN
33 Punggung atas kanan kiri AMAN
34 Punggung bawah kanan-kiri AMAN
F PEMERIKSAAN TANDA VITAL
1 Memeriksa nafas Ya
2 Memeriksa denyut nadi Ya
3 Memeriksa suhu tubuh Ya
4 Memeriksa Perfusi Ya
5 Memeriksa Kondisi/ warna kulit Ya
6 Pemeriksaan Berkala/ Pertolongan yg di berikan Ya
G WAWANCARA KOMPAK
1 Keluhan utama? CIDERA
2 Obat yang diminum? TIDAK ADA
3 Makan/minum terakhir? TIDAK ADA
4 Penyakit yang diderita? TIDAK ADA
5 Alergi yang diderita? TIDAK ADA
6 Kejadian yang dialami korban? KECELAKAAN
7 Selimuti Korban
8 PELAPORAN Meyerahkan kartu luka
9 Merekomendasikan segera evakuasi ke RS
JUMLAH

PENANGANAN KASUS
No. TINDAKAN KEADAAN

A KASUS LUKA ROBEK PADA KANAN
1 Tutup dan tekan luka
2 Tinggikan lebih atas dari jantung
3 Tekan sampai perdarah terkendali
4 Pertahankan penutup luka dan balut
5 CARA MENJELASKAN
B KASUS PATAH TULANG TERTUTUP TUNGKAI BAWAH KIRI
1 Ukur bidai pada bagian yg sehat (kanan) dg ukuran dari ujung tungkai - ketiak dan ujung tungkai sampai selangkangan
2 Susun mithela sebanyak 8
3 Ikat di mulai dari bagian antara tulang yang patah
4. CARA MENJELASKAN
JUMLAH
Keterangan: MB:Melakukan Benar MS:Melakukan Salah TM: Tidak Melakukan


7. REMAJA SEHAT PEDULI SESAMA (Perawatan Keluarga)
NO URUTAN TINDAKAN
A MENCUCI TANGAN
1 Lepaskan Perhiasan di tangan
2 Gulung Lengan baju sampai di atas siku
3 Basahi Tangan sampai siku
4 Ambil Sabun dari tempatnya dan membasahinya
5 Sabuni tangan sampai ke siku
6 Sabun di siram air terlebih dahulu kembalikan ke tempatnya
Mulai membersihkan secara berurutan :
7 Telapak tangan
8 Sela-sela jari
9 Kuku
10 Punggung tangan
11 Pergelangan tangan
12 Lengan bawah hingga ke siku
13 Bilas dengan air hingga bersih
14 Keringkan tangan dengan handuk kecil/lap
CARA MENJELASKAN
B Memakai celemek
1 Pegang tali Penggantung dan masukkan ke kepala
2 Pegang bagian sisi celemek dari atas Ke arah tali kiri & kanan
3 Mengikat tali dengan ikatan yg mudah dilepas
4 CARA MENJELASKAN
C Menata Tempat Tidur
C Menata Tempat Tidur
1 Kasur di balik bagian atas dibawah, bagian kiri ke kanan (sebaliknya)
2 Letajkkan pertengahan seprai pada pertengahan kasur, kemudian buka
3 Selipkan seprai pada ke empat sisi kasur
4 Letakkan alas perlak dan perlak pada pertengahan kasur
5 Buat lipatan keempat susut seprai dg lipatan diagonal
6 Pasang sarung bantal dan letakkan di atas kasur
7 Pasang selimut dengan pertengahan selimut diletakkan di atas pertengahan tempat tidur, pada bagian kaki di buat lipatan untuk kaki pasien.
8 CARA MENJELASKAN Baca selengkapnya...

Kamis, 16 September 2010

DASAR PERTOLONGAN PERTAMA

Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau korban kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar untuk mencegah cacat atau maut.

Tujuan Pertolongan Pertama
1. Menyelamatkan jiwa penderita
2. Mencegah cacat
3. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan
Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu Dalam perkembangannya tindakan pertolongan pertama diharapkan menjadi bagian dari suatu sistem yang dikenal dengan istilah Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu, yaitu sistem pelayanan kedaruratan bagi masyarakat yang membutuhkan, khususnya di bidang kesehatan.

Komponen Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu:
1. Akses dan Komunikasi
Masyarakat harus mengetahui kemana mereka harus meminta bantuan, baik yang umum maupun yang khusus.
2. Pelayanan Pra Rumah Sakit Secara umum semua orang boleh memberikan pertolongan.
Klasifikasi Penolong:
a. Orang Awam Tidak terlatih atau memiliki sedikit pengetahuan pertolongan pertama
b. Penolong pertama Kualifikasi ini yang dicapai oleh KSR PMI
c. Tenaga Khusus/Terlatih Tenaga yang dilatih secara khusus untuk menanggulangi kedaruratan di Lapangan
3. Tansportasi Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi Dasar Hukum
Di dalam undang-undang ditemukan beberapa pasal yang mengatur mengenai Pertolongan Pertama, namun belum dikuatkan dengan peraturan lain untuk melengkapinya. Beberapa pasal yang berhubungan dengan Pertolongan Pertama antara lain : Pasal 531 K U H Pidana “Barang siapa menyaksikan sendiri ada orang didalam keadaan bahaya maut, lalai memberikan atau
mengadakan pertolongan kepadanya sedang pertolongan itu dapat diberikannya atau diadakannya dengan tidak akan menguatirkan, bahwa ia sendiri atau orang lain akan kena bahaya dihukum kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4.500,-. Jika orang yang perlu ditolong itu mati, diancam dengan : KUHP 45, 165, 187, 304 s, 478, 525, 566”

Persetujuan Pertolongan Saat memberikan pertolongan sangat penting untuk meminta izin kepada korban terlebih dahulu atau kepada keluarga, orang disekitar bila korban tidak sadar. Ada 2 macam izin yang dikenal dalam pertolongan pertama :
1. Persetujuan yang dianggap diberikan atau tersirat (Implied Consent)
Persetujuan yang diberikan pendarita sadar dengan cara memberikan isyarat, atau penderita tidak sadar, atau pada anak kecil yang tidak mampu atau dianggap tidak mampu memberikan persetujuan
2. Pesetujuan yang dinyatakan (Expressed Consent) Persetujuan yang dinyatakan secara lisan maupun tulisan oleh penderita. Alat Perlindungan Diri
Keamanan penolong merupakan hal yang sangat penting, sebaiknya dilengkapi dengan peralatan yang dikenal sebagai Alat Perlindungan Diri antara lain :
a. Sarung tangan lateks Pada dasarnya semua cairan tubuh dianggap dapat menularkan penyakit.
b. Kaca mata pelindung Mata juga termasuk pintu gerbang masuknya penyakit kedalam tubuh manusia
c. Baju pelindung Mengamankan tubuh penolong dari merembesnya carian tubuh melalui pakaian.
d. Masker penolong Mencegah penularan penyakit melalui udara
e. Masker Resusitasi Jantung Paru Masker yang dipergunakan untuk memberikan bantuan napas
f. Helm Seiring risiko adanya benturan pada kepala meningkat. Helm dapat mencegah terjadinya cedera pada kepala saat melakukan pertolongan.

Kewajiban Pelaku Pertolongan Pertama Dalam menjalankan tugasnya ada beberapa kewajiban yang harus dilakukan :
a. Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya.
b. Dapat menjangkau penderita.
c. Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa.
d. Meminta bantuan/rujukan.
e. Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaan korban
f. Membantu pelaku pertolongan pertama lainnya.
g. Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita.
h. Melakukan komunikasi dengan petugas lain yang terlibat.
i. Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi.
Kualifikasi Pelaku Pertolongan Pertama Agar dapat menjalankan tugas seorang petugas penolong harus memiliki kualifikasi sebagai berikut :
a. Jujur dan bertanggungjawab.
b. Memiliki sikap profesional.
c. Kematangan emosi.
d. Kemampuan bersosialisasi.
e. Kemampuannya nyata terukur sesuai sertifikasi PMI. Secara berkesinambungan mengikuti kursus penyegaran.
f. Selalu dalam keadaan siap, khususnya secara fisik
g. Mempunyai rasa bangga.
Fungsi Alat dan Bahan Dasar Dalam menjalankan tugasnya ada beberapa peralatan dasar yang sebaiknya tersedia dan mampu digunakan oleh penolong di antaranya :
1. Alat dan bahan memeriksa korban
2. Alat dan bahan perawatan luka
3. Alat dan bahan perawatan patah tulang
4. Alat untuk memindahkan penderita
5. Alat lain yang dianggap perlu sesuai dengan kemampuan Baca selengkapnya...

DASAR-DASAR PK

Prinsip Kerja Seorang Pelaku PK :
1. Sikap yang baik seorang Pelaku PK penting untuk memberi kesan baik tentang kepribadiannnya:
 Berperikemanusiaan
 Bertanggungjawab
 Selalu mengutamakan kepentingan si sakit
 Selalu bersikap terbuka
2. Menunjukan kemanuan kerja dengan tenang, cepat dan tanpa ragu-ragu.
3. Mempunyai sifat ramah, selalu senyum, bersedia untuk mendengarkan keluhan dan mampu menenangkan si sakit.
4. Berfikirlah sebelum bertindak atau bekerja
5. Pengamatan serta informasi yang berwenang sangat bermanfaat dan membantu dalam menjalankan tugas perawatan
6. Jagalah kebersihan lingkungan dan ruangan di sakit dengan tidak mengabaikan kebersihan diri sendiri.
7. Catatlah selalu hasil pengamatan dan perawatan secara singkat jelas
8. Usahakan agar tidak menambah penderitaan si sakit
9. Jangan bertindak menyimpang dari peraturan dan perintah dokter/ petugas kesehatan.
10. Jika perlu untuk merujuk si sakit ke puskesmas atau rumah sakit, persiapkan dengan baik, baik keperluan orang sakit juga transportasi.
11. Selalu menjaga kerahasiaan medis pasien.
Peralatan Perawatan Keluarga :
1. Peralatan yang diperlukan untuk PK tidak perlu sama dengan yang ada di rumah sakit, dengan peralatan sederhana kita dapat menolong orang sakit. Peralatan yang digunakan dapat menggunakan peralatan yang ada atau improvisasi.
2. Perlengkapan PK sederhana :
Bagi Pelaku PK
◙ Celemek
◙ Peralatan mencuci tangan
 Air mengalir (kran, botol, improvisasi lain)
 Baskom (wadah menampung air)
 Sabun dalam tempatnya (kalau perlu sikat tangan)
 Handuk tangan/serbet.
Bagi orang sakit
◙ Peralatan tempat tidur
 Tempat tidur dan bantal
 Seprei, sarung bantal, kain perlak dan alas perlak (sedikitnya 2 set), selimut.
 Alat penopang kaki (improvisasi)
◙ Peralatan mandi, buang air kecil (b.a.k), buang air besar (b.a.b)
 2 ember
 1 gayung
 Baskom
 2 washlap
 2 handuk
 Pasu najis
 Labu kemih
 Tissue
 Air mengalir (di botol, ceret, wadah lainnya)
 Sisir & alat make up untuk wanita
 Air hangat dalam wadah
◙ Peralatan mencuci rambut
 Talang plastik
 Shampo
 Alat pengering rambut (hair dryer, kipas, dll)
 Handuk
 Sisir
◙ Peralatan memelihara mulut
 Sikat gigi
 Pasta gigi
 Bengkokan / kaleng / wadah penampungan buangan.
◙ Peralatan makan
 Baki berisi : piring, sendok, garpu, gelas dengan tatakan dan tutupnya (dapat diberi sedotan), serbet.
 Meja kecil, bel (khusus untuk pasien yang dapat makan sendiri.
◙ Peralatan medis
 Termometer, Tensi meter, Perban & Plester
◙ Peralatan Kompres
 Washlap, air hangat atau air dingin
 Kantong es/kompres dingin, kantong air panas/ kompres panas.
◙ Bahan lain yang diperlukan :
 Talk, minyak pelumas & cream pelembab kulit.
◙ Desinfectant / cairan pensucihama & antiseptict. Baca selengkapnya...

DAPUR UMUM (DU) PMI

Sebelum kita bahas tenteng Dapur Umum ( DU ) PMI terlebih dahulu kita harus ketahui sebab-sebab kita harus mendirikan Dapur.Dapur Umum didirikan apabila terjadi bencana yang dapat mengakibatkan:
1. Mengakibatkan penderitaan manusia
2. Mengganggu aktivitas
3. Menimbulkan kerusakan harta benda , alam beserta lingkungannya
4. Menghambat roda pembangunan

Karena terjadi bencana tersebut maka PMI akan melaksanakan Penanggulangan Korban Bencana yang bertujuan untuk:

1. Meringankan penderitaan
2. Mengatasi Kebutuhan Primer

* Perlindungan
* S a n d a n g
* P a n g a n
* P a p a n
* Kesehatan

Supaya terpenuhinya kebutuhan tersebut terutama dibidang pangan maka PMI mendirikan DAPUR UMUM yang bertujuan :

1. Menyediakan makanan sederhana & layak , higienis , cukup bergizi
2. Dapat didistribusikan dalam waktu yang cepat dan tepat

Dalam 1 tim DU Terdiri dari anggota yaitu:

KETUA REGU

* Mengatur pembagian tugas anggota , membimbing dan bertanggungjawab atas kelancaran tugas pelaksanaan dapur umum
* Bertanggung jawab secara langsung pada ketua tim Pengurus Cabang melalui ketua kelompok bila ada

WAKIL KETUA REGU

* Mewakili ketua regu bila ketua berhalangan
* Bertanggungjawab atas pelayanan makanan & memelihara ketertiban serta kebersihan lingkungan wilayah kerja

PENANGGUNGJAWAB TATA USAHA

* Membuat daftar nama , alamat rumah , tanggal lahir , jenis kelamin dan pekerjaan korban bencanaAdministrasi penerima / pengeluaran bahan keperluan dapur umumdan peralatan / perlengkapan
* Melaksanakan pembukuan keuanganPembuatan / menyusun laporan

PENANGGUNGJAWAB PERALATAN / PERLENGKAPAN

* Menyiapkan dan melengkapi peralatan DU
* Pengadaan bahan untuk keperluan DU
* Mengatur penyimpanan logistik bahan kebutuhan dan perlengkapan DU
* Membuat daftar inventaris peralatan & perlengkapan
* Bertanggungjawab penerimaan dan pengeluaran logistik

PENANGGUNGJAWAB MEMASAK

* Mengelola bahan masakan hingga siap didistribusikan
* Memelihara ketepatan waktu makanDengan bantuan tenaga lokal menentukan menu makanan setiap hari sesuai selera yang membutuhkan ( para korban )

PETUGAS PENDISTRIBUSIAN

* Melaksanakan pembagian makan sesuai jumlah dengan cara yang baik dan tertib

PERALATAN & PERLENGKAPAN DU
Penyelenggaraan dapur umum dapat melayani korban ratusan atau ribuan orang dalam waktu yang tepat serta memenuhi gizi standar. Untuk melayani s/d 500 orang diperlukan 1 ( satu ) unit peralatan DU yang terdiri dari :

PERALATAN POKOK

* Langseng ukuran 25 kg...................2 bh
* Drum air ukuran 50 liter................2 bh
* Panci ukuran besar .........................2 bh
* Wajan ukuran besar ........................2 bh
* Serok .................................................1 bh
* Susuk Wajan .....................................2 bh
* Sendok Nasi ......................................2 bh
* Sendok Sayur ....................................2 bh
* Tempat nasi ......................................2 bh
* Ceret/Teko besar ..............................3 bh
* Baskom besar ....................................3 bh
* Baskom kecil .....................................3 bh

PERALATAN PENUNJANG

* Ember plastik pakai tutup............... 2 bh
* Ember plastik biasa .......................... 3 bh
* Gayung air dari plastik ..................... 2 bh
* Cobek batu ......................................... 2 bh
* Pisau dapu .......................................... 3 bh
* Golok ................................................... 1 bh
* Talenan .............................................. 2 bh
* Ayakan ............................................... 2 bh
* Drum air sedang .............................. 1 bh
* Meja ................................................... 2 bh
* Tikar .................................................. 5 bh
* Tampah ............................................. 1 bh
* Tempat sampah ............................... 2 bh
* Pembungkus nasi dan air minum secukupnya

LOKASI
Lokasi untuk Du diupayakan :

* Letak dapur umum supaya dekat dengan posko dan mudah dicapai/dikunjungi korban
* Higienis lingkungan cukup memadai
* Aman dari bencana
* Dekat dengan transportasi umum
* Dekat dengan sumber air
* Bangunan darurat kuat seperti Rumah atau Tenda regu / tenda peleton

CONTOH DAFTAR MENU

Hari 1
Pagi : Nasi, Tempe goreng, Urap
Siang : Nasi, Ungkep daging/tahu, Sayur lodeh, Pepaya
Malam : Nasi , Rempeyek, Tumis kangkung, Pisang
Hari 2
Pagi : Nasi, Dadar telor, Sambel tomat
Siang : Nasi, Rendang, Tumis sawi, Pisang
Malam : Nasi , Sambel Goreng, Tempe/Teri, Jeruk Baca selengkapnya...

Tenaga Sukarela (TSR) PMI

TSR adalah anggota PMI yang direkrut dari perseorangan dari kalangan masyarakat yang berlatar belakang profesi atau memiliki ketrampilan tertentu, misalnya dokter, ahli gizi, sanitasi, akuntan, logistik, teknisi, pertanian, jurnalis, seniman/artis, teknologi komunikasi, guru, dsb.

Persyaratan menjadi anggota TSR PMI:
 WNI yang bertaqwa kepada Tuhan YME
 Setia kepada Pancasila dan UUD ‘45
 Usia minimal 18 tahun dan serendahnya tamatan SMP/Sederajat
 Atas kesadaran dan kemauan sendiri bersedia mendaftarkan diri menjadi anggota PMI setempat
 Memiliki keterampilan/keahlian/profesi tertentu yang dapat mendukung tugas dan kegiatan PMI, baik yang didapat dari pendidikan formal maupun non formal, seperti kursus,dll
 Memiliki kesanggupan secara fisik dan mental
 Bersedia menjalankan ketentuan organisasi PMI dan menjaga nama baik PMI
 Bersedia mengabdikan diri di PMI
 Bersedia mengikuti Orientasi Kepalangmerahan
Bagi WNA yang berminat menjadi anggota TSR PMI:
 WNA yang telah memenuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia (mempunyai dokumen keimigrasian yang jelas)
 Bersedia mengikuti Orientasi Kepalangmerahan
 Mendaftarkan diri atas kesadaran dan kemauan sendiri
 Bersedia mentaati peraturan organisasi yang berlaku dan menjaga nama baik PMI
Kalangan profesional yang berminat ingin bergabung dengan PMI dapat menghubungi Markas PMI Cabang atau Daerah setempat kemudian mengikuti orientasi kepalangmerahan, sebelum dilibatkan dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. Mereka akan direkrut bilamana, PMI mempunyai program kegiatan pelayanan yang memerlukan tenaga relawan dengan spesifikasi yang terkait, untuk ditugaskan dilokasi operasi kemanusiaan tersebut. Baca selengkapnya...

HUMOR SEJENAK

Jika Orang PLN Tahu…..
Satu pasangan muda sangat bersuka cita demi mengetahui sang isteri hamil muda. Namun sebelum mendapat kepastian dari dokter, mereka sepakat untuk
merahasiakan kehamilan tsb.
Isteri: “Pa, nggak usah diomongin dulu ya…takut gagal, ‘kan nggak enak kalau sudah diomong?in”
Suami: “Oke deh ma, janji nggak bakalan diomongin sebelum ada konfirmasi dokter”

Lagi asik mereka ngobrol tiba-tiba
datang karyawan PLN
ke rumah mereka untuk menyerahkan
tagihan dan denda
atas tunggakan rekening listrik mereka
bulan yang lalu.
Petugas PLN : “Nyonya terlambat 1 bulan.”
Isteri : “Bapak tahu dari mana…???? Papa… Tolong nih bicara sama orang PLN ini…!”
Suami : “Eh, sembarangan… bagaimana anda bisa tahu masalah ini?”
Petugas PLN : “Semua tercatat di kantor kami,Pak.”
Suami (tambah sengit): “Oke, besok saja saya ke kantor Bapak untuk menyelesaikan masalah ini!”
== Esoknya Di Kantor PLN… ==
Suami : “Bagaimana PLN tahu rahasia keluarga saya?”
Karyawan PLN : “Ya tahu dong, lha wong ada catatannya pada kami!”
Suami : “Jadi saya mesti bagaimana agar berita ini dirahasiakan, Pak?”
Karyawan PLN : “Ya mesti bayar dong Pak!”
Suami (sialan gue diperes nih!) : “Kalau saya tidak mau bayar,bagaimana?”
Karyawan PLN : “Ya punya Bapak terpaksa kami putus…”
Suami : “Mati akuu…? Lha, kalo diputus…nanti isteri saya bagaimana…?”
Karyawan PLN : “Kan masih bisa pakai lilin


Merasa Bersalah
Rini dikenal sebagai cewek penggoda lelaki dan tukang selingkuh kelas kakap. Suatu hari, Rini pergi menemui seorang dokter spesialis kejiwaan untuk berkonsultasi.
Ridi: Dokter, tolonglah saya. Setiap kali saya melihat cowok ganteng dan tajir, saya selalu ingin menggoda dan berselingkuh dengan mereka. Setelah perselingkuhan terjadi, saya merasa bersalah dan menyesal sekali. Tolonglah saya Dokter.
Dokter: Saya paham. Anda pasti ingin insaf dan bisa bebas dari hasrat untuk menggoda pria lain dan berselingkuh dengannya kan?
Ridi: Bukan begitu Dok! Saya ingin dokter mengobati agar saya tidak merasa bersalah setelah melakukan perselingkuhan!

SELINGKUH
“Tolong saya Dok,” kata Budi pada dokter.
“Apa yang bisa saya bantu?”, tanya dokter.
“Beberapa hari yang lalu, ketika saya pulang dari kantor, saya menangkap basah istri saya sedang berselingkuh dengan lelaki lain. Kemudian, saya mengambil pisau, terus mengacungkannya kepada istri saya. Lelaki selingkuhannya itu berkata bahwa percuma saya membunuh istri saya karena saya akan masuk penjara dan tidak pernah lagi bisa bersama istri saya. Saya pun luluh. Kemudian, lelaki itu mengajak minum kopi”.
“Lalu apa masalahnya?” tanya dokter.
“Dua hari kemudian, istri saya melakukan hal yang sama dengan lelaki yang sama. Saya todongkan pisau ke arah lelaki itu. Namun, sekali lagi ia membujuk bahwa kalaupun ia mati, istrinya akan berselingkuh lagi dengan lelaki lainnya. Saya pun luluh dan ia pun mengajak saya minum kopi.”
“Jadi, apa hubungan kedua cerita tadi dengan kedatanganmu ke sini?” tanya dokter.
“Tunggu Dok. Tadi pun saya memergoki istri saya melakukan hal yang sama. Kemudian, saya mengancam akan bunuh diri dengan pisau dapur. Sekali lagi, lelaki itu berkata bahwa kalau saya mati akan rugi karena justru akan memberi peluang pada istrinya untuk berselingkuh. Akhirnya, saya luluh dan sekali lagi ia mengajak saya minum kopi”.
“Ok… tidak usah bertele-tele lagi, langsung ke pokok persoalan aja!” kata dokter yang terlihat mulai tidak sabaran.
“Yang ingin saya tanyakan Dok, apakah sering minum kopi itu bisa merusak kesehatan atau nggak seeh Dok?”
Prosesi Pemakaman Para Dokter
Pada suatu hari, seorang dokter spesialis jantung meninggal dunia. Untuk mengenang jasa-jasanya, teman-teman dokter di RS tempat almarhum bertugas sepakat untuk membuatkan sebuah peti mati berbentuk jantung. Dan, acara penguburan pun berjalan dengan khidmat.
Satu bulan berselang, seorang dokter spesialis mata meninggal dunia. Seperti prosesi sebelumnya, teman-teman dokter itu sepakat untuk membuatkan peti mati berbentuk mata. Dan, prosesi penguburan pun berjalan dengan khidmat.
Setelah prosesi penguburan selesai, seluruh keluarga dan teman almarhum meninggalkan areal pemakaman. Namun, hanya satu orang saja yang masih merenung sendirian di pinggir kuburan yang masih basah itu.
Akhirnya, salah seorang dokter segera menghampirinya, menepuk pundaknya, dan berkata, “Sudahlah, kamu mesti tabah. Saya mengerti, Almarhum merupakan sahabat karibmu di rumah sakit! Pasti kamu sangat kehilangan dengan kepergian beliau!” “Bukan itu… saya hanya memikirkan, bagiamana kelak kalau saya meninggal,” jawab dokter spesialis penyakit kelamin itu sambil berlalu.

Jangan Tertawa
Suatu hari, Hendra datang menemui dokter spesialis kelamin untuk berkonsultasi. “Dok, saya punya masalah. Tapi… Dokter harus janji tidak akan tertawa!” kata Hendra.
“Jangan khawtir…. Saya janji tidak akan tertawa, itu kan melanggar sumpah kedokteran,” jawab dokter.
Hendra langsung menurunkan celananya. Kemudian, menunjukkan kelaminnya yang kecil sekali, mirip seperti karet penghapus pensil 2B. Melihat itu, dokter pun tidak kuat menahan tawa, sampai berguling-guling di lantai. Kira-kira lima menit, baru dokter itu mampu menghentikan tawanya. “Maaf Mas, saya kelepasan. saya janji tidak akan begitu lagi. Nah… sekarang ceritakan permasalahan yang Mas alami?”
Hendra ngomong dengan nada sedih, “Dok… sudah tiga hari, bengkaknya tidak hilang-hilang….”

Hari “S”
Sepasang pengantin baru mengalami gangguan kesehatan. Setelah diperiksa dengan teliti, dokter menyimpulkan hal itu disebabkan karena frekuensi hubungan intim yang terlalu tinggi. Kemudian dokter mengatakan, “Sebaiknya, untuk sementara Anda berdua membatasi hubungan intim. Ya… setidaknya tiga kali dalam seminggu. Untuk memudahkan mengingat, saya sarankan untuk melakukan hubungan intim hanya pada hari yang berawalan dengan huruf S, seperti hari Senin, Selasa, dan Sabtu!”
Pada minggu pertama dan kedua, pasangan itu masih sanggup mengikuti saran dokter. Namun, pada minggu ketiga, si suami tidak tahan lagi, ia pun mencumbui istrinya. “Ini hari apa ini Mas?” tanya si istri. “Hari Sumat!” seru si suami. Baca selengkapnya...

Rabu, 15 September 2010

KePalang Merahan


Palang Merah merupakan suatu perhimpunan dari organisasi kemanusiaan terbesar yang anggotanya memberikan pertolongan secara sukarela kepada setiap manusia yang sedang menderita tanpa membeda-bedakan bangsa, golongan, agama, dan politik. Nama resmi Palang Merah adalah Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Gerakan Palang Merah saat ini memiliki lebih dari 115 juta sukarelawan dari seluruh dunia.

A. PALANG MERAH INTERNASIONAL
Berawal dengan pecahnya perang antara pasukan Perancis, dan Italia melawan Austria pada tahun 1859 di Selferino, Italia Utara. Henry Dunant menyaksikan terjadinya perang tersebut di mana banyak korban perang yang tidak mendapat pertolongan. Karena itu timbul ide atau gagasan untuk memberi pertolongan kepada korban perang tersebut. Pengalaman selama beberapa hari bergelut di medan perang, ia tuangkan di dalam buku yang ditulisnya pada tahun 1962 bejudul “A Memory of Solferino” (Kenangan di Solferino). Buku tersebut berkisah tentang kondisi yang ditimbulkan oleh peperangan, dan mengusulkan agar dibentuk satuan tenaga sukarela yang bernaung di bawah suatu lembaga yang memberikan pertolongan kepada orang yang terluka di medan perang.
1. Komite Internasional Palang Merah (KIPM) atau International Committee of the Red Cross
Sejarah Komite Internasional Palang Merah berawal dari buku kenangan di Solferino (A Memory of Solferino) yang sangat menarik perhatian masyarakat. Di antaranya empat orang penduduk Jenewa tersebut, yaitu: General Dufour, Dr. Theodore Maunoir, Dr. Louis Appia, dan Gustave Moynier.
Mereka bersama Henry Dunant membentuk Komite Lima (1963), mereka merintis terbentuknya KIPM yang kemudian menjadi Internasional Committee of the Red Cross (ICRC). Pada tanggal 22 Agustus 1864 atas prakarsa ICRC, pemerintah Swiss menyelenggarakan suatu konferensi yang diikuti oleh 12 kepala negara yang menandatangani perjanjian internasional yang dikenal dengan Konvensi Jenewa I, yang isinya:
· Tentara yang terluka atau sakit harus diobati.
· Sebagai penghargaan terhadap negara Swiss, maka lambang perlindungan menggunakan tanda Palang Merah di atas dasar putih, yang terjadi dengan mempertukarkan warna-warna federal. Lambang ini hendaknya dipakai untuk rumah sakit, ambulans, dan para petugas penolong di medan perang/ konflik bersenjata.
Karena tanda Palang Merah diasumsikan mempunyai arti khusus, maka pada tahun 1876 simbol bulan sabit merah disahkan untuk digunakan oleh negara-negara Islam. Kedua simbol tersebut memiliki arti, dan nilai yang sama.
“Konferensi Internasional Palang Merah “ yang diselenggarakan empat tahun sekali, dan dihadiri oleh ICRC, Federasi, Perhimpunan Nasional, dan Pemerintah peserta peratifikasi Konvensi Jenewa tahun 1949. Pertemuan itu membahas persoalan-persoalan umum, dan menampung usul-usul serta resolusi di samping mengambil keputusan. Para peserta konferensi memilih anggota Standing Commission (Komisi Tetap) yang bersidang pada waktu di antara dua konferensi Internasional.
Dengan berakhirnya Perang Dunia I, berbagai epidemi penyakit berjangkit bencana kelaparan menjalar. Melihat kenyataan itu, Henry P. Davidson, seorang warga negara Amerika, merasa perlu mendirikan suatu organisasi yang menangani masalah bantuan tersebut. Organisasi ini resmi didirikan pada tanggal 5 Mei 1919 dalam suatu Konferensi Kesehatan Internasional di Cannas, Perancis. Palang Merah Indonesia termasuk anggota ke-68.
Badan tertinggi penentuan kebijaksanaan adalah General Assembly Board of Gevernors”. General Assembly atau sidang umum dihadiri oleh wakil-wakil dari semua anggota federasi, dan bersidang tiap dua tahun, Presiden Federasi dipilih tiap empat tahun. Jika General Assembly tidak bersidang, maka kebijakan tertinggi dilaksanakan oleh “Executive yang anggotanya terdiri dari 16 Perhimpunan Nasional (dipilih berdasarkan letak geografis), Presiden, dan Sekjen Federasi.
B. PRINSIP-PRINSIP DASAR PALANG MERAH
Semua kegiatan kemanusiaan dilandasi oleh tujuh prinsip dasar Gerakan Palang Merah, dan Bulan Sabit Merah Internasional. Ketujuh prinsip ini disahkan dalam Konferensi Internasional Palang Merah XX di Wina tahun 1965. Ketujuh prinsip ini juga disahkan dalam Munas XIV Palang Merah Indonesia di Jakarta pada tahun 1986.
a. Kemanusiaan (Humanity)
Gerakan Palang Merah, dan Bulan Sabit Merah Internasional didirikan berdasarkan keinginan memberikan pertolongan tanpa membedakan korban terluka di dalam pertempuran, berupaya dalam kemampuan bangsa, dan antarbangsa, mencegah, dan mengatasi penderitaan sesama manusia. Palang Merah menumbuhkan saling pengertian, kerjasama, dan perdamaian abadi bagi sesama manusia.
b. Kesamaan (Impartiality)
Gerakan ini tidak membuat perbedaan atas dasar kebangsaan, kesukuan, agama/ kepercayaan, tingkatan atau pandangan politik. Tujuannya semata-mata mengurangi penderitaan manusia sesuai dengan kebutuhannya, dan mendahulukan keadaan yang paling parah.
c. Kenetralan (Neutrality)
Agar senantiasa mendapat kepercayaan dari semua pihak, gerakan ini tidak boleh memihak atau melibatkan diri dalam pertentangan politik, kesukuan, agama, atau idiologi.
d. Kemandirian (Independence)
Gerakan ini bersifat mandiri. Perhimpunan Nasional disamping membantu pemerintahannya dalam bidang kemanusiaan, juga harus mentaati peraturan negaranya, harus selalu menjaga otonominya sehingga dapat bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip gerakan ini.
e. Kesukarelaan (Voluntary Service)
Gerakan ini adalah gerakan pemberi bantuan sukarela, yang tidak didasari oleh keinginan untuk mencari keuntungan apapun.
f. Kesatuan (Unity)
Di dalam suatu negara hanya ada satu Perhimpunan Palang Merah atau Bulan Sabit Merah yang terbuka untuk semua orang, dan melaksanakan tugas kemanusiaan di seluruh wilayah.
g. Kesemestaan (Universality)
Gerakan Palang Merah, dan Bulan Sabit Merah Internasional adalah bersifat semesta. Setiap perhimpunan mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dalam menolong sesama manusia.
C. HUKUM PERIKEMANUSIAAN INTERNASIONAL (HPI)
Hukum Perikemanusiaan Internasional atau Internasional Humaniterian Law adalah bagian dari hukum internasional yang memberikan perlindungan terhadap anggota angkatan perang yang luka, sakit, dan tidak dapat lagi ikut dalam peperangan serta penduduk sipil yang tidak ikut berperang. Selain itu juga mengatur metode perang.
Maksud dan tujuan adanya HPI adalah untuk mengatur perang yang terjadi lebih manusiawi, bila perang itu tidak terhindarkan, menentukan orang-orang yang tidak ikut dalam peperangan atau tidak dapat lagi ikut dalam peperangan hendaknya dianggap manusia biasa yang patut dihargai, dan diperlakukan secara manusiawi.
Sasaran penyerangan hanya boleh dilakukan terhadap objek militer, dan bukan objek sipil. HPI sangat erat kaitannya dengan Palang Merah, dimulai dengan lahirnya Konvensi Jenewa 1864 (pertama). Konvensi Jenewa telah dilengkapi, dan diperbaiki pada tahun 1906, 1928, 1949, dan dua protokol ditambahkan pada konvensi tersebut ditahun 1977.
Berikut isi dari keempat Konvensi Jenewa 1949 tersebut:
· Konvensi I: Perlindungan terhadap korban angkatan perang di darat yang luka dan sakit, petugas kesehatan serta petugas di bidang agama.
· Konvensi II: Perlindungan terhadap korban angkatan perang di laut, petugas kesehatan, petugas agama serta kapal perang yang kandas.
· Konvensi III: Perlindungan terhadap tawanan perang.
· Konvensi IV: Perlindungan terhadap orang-orang sipil di masa perang.
Karena keempat konvensi tersebut belum mencakup perlindungan terhadap semua penderita yang diakibatkan oleh pertikaian, maka pada tahun 1977 dikeluarkan dua protokol:
· Protokol I: diterapkan pada konflik bersenjata internasional.
· Protokol II: diterapkan pada konflik non-internasional.
Tiap negara di dunia ikut mengesahkan, dan menyetujui konvensi tersebut. Sekarang lebih dari 160 negara telah ikut menjadi peserta Konvensi Jenewa tahun 1942.
Sesuai ketentuan, negara penandatanganan Konvensi Jenewa 1949, dan Protokol I, dan II 1977, menaati, dan menjamin, bahwa isi konvensi tersebut diketahui dengan sebaik-baiknya terutama oleh angkatan perang, Dinas Kesehatan, dan Rohaniawan (golongan ini mempunyai hak, dan kewajiban dalam Konvensi Jenewa). Masyarakat dan penduduk sipil juga harus memahami HPI ini, agar mereka juga mengetahui hak-hak serta kewajiban di masa pertikaian bersenjata. Kegiatan perikemanusian Palang Merah untuk menolong dan melindungi korban perang merupakan hak dan kewajiban di bawah ketentuan Konvensi Jenewa 1949. Kegiatan ini harus semata-mata bertujuan menolong korban perang sebagai manusia, terlepas dari pertimbangan politik atau militer. Untuk itu PMI turut menyebar luaskan HPI, terutama untuk kalangan PMI, yang dilakukan bersama dengan penyebarluasan prinsip-prinsip Palang Merah.
Tujuan PMI adalah untuk meringankan penderitaan sesama manusia apapun sebabnya, dengan tidak membedakan golongan, bangsa, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
PMI memiliki beberapa lambang seperti berikut:
1. PMI menggunakan lambang Palang Merah di atas dasar putih sebagai tanda Perlindungan sesuai dengan ketentuan Palang Merah Internasional,
2. Lambang PMI sebagai anggota Palang Merah Internasional adalah Palang Merah di atas dasar warna putih,
3. Lambang PMI sebagai Perhimpunan Nasional adalah Palang Merah di atas dasar putih dilingkari bunga berkelopak lima.
Seperti Palang Merah Internasional, lahirnya PMI juga berkaitan dengan kancah peperangan, diawali pada:
a. Masa Sebelum Perang Dunia II
Tanggal 21 Oktober 1873, Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (NERKAI) didirikan Belanda.
Tahun 1932, Dr. RCL Senduk, dan Dr. Bahder Djohan merencanakan mendirikan badan PMI.
Tahun 1940, pada sidang konperensi NERKAI, rencana di atas ditolak karena menurut Pemerintah Belanda, rakyat Indonesia belum mampu mengatur Badan Palang Merah Nasional.
b. Masa Pendudukan Jepang
Dr. RCL Senduk berusaha lagi untuk mendirikan Badan PMI namun gagal, ditolak Pemerintah Dai Nippon.
c. Masa Kemerdekaan RI
Tanggal 17 Agustus 1945 RI Merdeka.
Tanggal 3 September 1945 Presiden Soekarno memerintahkan kepada Menteri Kesehatan Dr. Buntaran Martoatmodjo untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional. Pembentukan PMI dimaksudkan juga untuk menunjukan pada dunia Internasional bahwa Negara Indonesia adalah suatu fakta yang nyata.
Tanggal 5 September 1945 Menkes RI dalam Kabinet I (Dr. Boentaran) membentuk Panitia 5 yang diketuai Dr. R. Mochtar, notulennya bernama Bahder Djohan, sedangkan anggotanya terdiri dari Dr. Djoehana, Dr. Marzuki, Dr. Sintanala.
Tanggal 17 September 1945 tersusun Pengurus Besar PMI yang dilantik oleh Wakil Presiden RI Moch. Hatta yang sekaligus beliau sebagai Ketuanya.
d. Masa Perang Kemerdekaan
Pada masa itu peperangan terjadi di mana-mana, dalam usia muda PMI menghadapi kesulitan, kurang pengalaman, kurang peralatan, dan dana. Namun orang-orang secara sukarela mengerahkan tenaganya, sehingga urusan kepalangmerahan dapat diselenggarakan. Pertolongan dan bantuan tersebut seperti:
· Dapur Umum (DU)
· Pos PPPK (P3K)
· Pengangkutan, dan perawatan korban pertempuran
· Sampai penguburan jika ada yang meninggal
Pertolongan dan bantuan tersebut dilakukan oleh laskar-laskar sukarela di bawah Panji Palang Merah yang tidak memandang golongan, agama, dan politik. Pada waktu itu dibentuk Pasukan Penolong Pertama (Mobile Colone) oleh cabang-cabang, anggotanya terdiri dari pelajar.
e. Beberapa Peristiwa Sejarah PMI
Tanggal 16 Januari 1950, dikeluarkan Keputusan Presiden RI No. 25/ 1950 tentang pengesahan berdirinya PMI.
Tanggal 15 Juni 1950, PMI diakui oleh ICRC.
Tanggal 16 Oktober 1950, PMI diterima menjadi anggota Federasi Internasional Palang Merah, dan Bulan Sabit Merah dengan keanggotaan No. 68.
f. Nama-Nama Tokoh yang Pernah Menjadi Ketua PMI
1. Ketua PMI ke 1 (1945-1946): Drs. Moch. Hatta.
2. Ketua PMI ke 2 (1945-1948): Soetarjo Kartohadikoesoemo.
3. Ketua PMI ke 3 (1948-1952): BPH Bintoro.
4. Ketua PMI ke 4 (1952-1954): Prof. Dr. Bahder Djohan.
5. Ketua PMI ke 5 (1954-1966): P. A. A. Paku Alam VIII.
6. Ketua PMI ke 6 (1966-1969): Letjen Basuki Rachmat.
7. Ketua PMI ke 7 (1970-1982): Prof. Dr. Satrio.
8. Ketua PMI ke 8 (1982-1986): Dr. H. Soeyoso Soemodimedjo.
9. Ketua PMI ke 9 (1986-1992): Dr. H. Ibnu Sutowo.
10. Ketua PMI ke 10 (1992-1998): Hj. Siti Hardianti Rukmana.
11. Ketua PMI ke 11 (1998-2004): Mari’e Muhammad.
12. Ketua PMI ke 12 (2004-2009): Mari’e Muhammad.
13. Ketua PMI ke 13 (2009 – sekarang) M. Jusuf Kalla
g. Struktur Organisasi PMI
Musyawarah Nasional adalah pemegang kekuasaan tertinggi di dalam perhimpunan PMI, dihadiri oleh utusan-utusan Cabang, Daerah serta Pengurus Pusat. Diadakan tiap empat tahun. Saat ini PMI memiliki 306 Cabang dari 31 Provinsi (Daerah).
g. Keanggotaan Palang Merah Indonesia
Di dalam Anggaran Dasar PMI pada Bab VII pasal 11 disebutkan: Organisasi PMI mempunyai anggota yaitu:
1. Anggota Remaja.
2. Anggota Biasa.
3. Anggota Kehormatan.

Semua anggota PMI ini diakui sebagai kekuatan inti organisasi. Anggota PMI adalah potensi sumberdaya, dan dana organisasi. Anggota PMI pada suatu saat dapat menjadi Pengurus PMI dengan status keanggotaannya yang tetap.
1. Anggota Remaja PMI
Mengenai keanggotaan remaja, terdapat apa yang disebut Palang Merah Remaja (PMR). Palang Merah Remaja ini dibentuk oleh PMI pada bulan Maret 1950 yang merupakan perwujudan dari keputusan Liga Palang Merah (League of the Red Cross and Red Crescent Societies). Terbentuknya PMR di Indonesia ini, dan juga PMR di beberapa Palang Merah Nasional lainnya dilatarbelakangi oleh pecahnya Perang Dunia I, di mana pada waktu itu Palang Merah Australia mengerahkan anak-anak sekolah supaya turut membantu sesuai dengan kemampuannya. Kepada mereka diberikan tugas ringan, seperti mengumpulkan pakaian bekas, majalah-majalah bekas dari dermawan, menggulung pembalut, dan sebagainya. Anak-anak ini dihimpun dalam sebuah organisasi yang dinamakan “Palang Merah Remaja”, kemudian prakarsa ini diikuti oleh negara-negara lain.
Beberapa ketentuan menjadi anggota remaja adalah sebagai berkut:
· Wanita-Pria usia di bawah 18 tahun Warga Negara Indonesia.
· Mendaftarkan diri secara sukarela di sekolah masing-masing.
· Mendapat ijin atau persetujuan orang tua.
Hak yang dimiliki anggota remaja PMI adalah sebagai berikut:
· Dapat menjadi anggota biasa PMI jika telah mencapai usia 18 tahun.
· Mendapat kesempatan pendidikan kepalangmerahan.
· Ikut aktif dalam Palang Merah Remaja.
· Dapat mengikuti kegiatan-kegiatan sebagai Anggota Remaja baik di Dalam Negeri maupun di Luar Negeri.
Kewajiban yang dibebankan terhadap anggota remaja PMI adalah sebagai berikut:
· Mengikuti pendidikan, dan latihan dasar Kepalangmerahan.
· Bersedia membantu tugas-tugas Kepalangmerahan, dan tergabung dalam wadah/ kegiatan Palang Merah Remaja.
· Menjaga nama baik organisasi serta mempererat persahabatan baik nasional maupun internasional.
· Mempertinggi keterampilan, dan kecakapan dalam tugas Kepalangmerahan.
Keanggotaan PMR dibagi dalam tiga tingkatan antara lain:
· PMR MULA: Setingkat usia murid SD; 7-12 tahun; Badge warna HIJAU.
· PMR MADYA: Setingkat usia murid SLTP; 13-16 tahun; Badge warna BIRU.
· PMR WIRA: Setingkat usia murid SLTA; 17-21 tahun; Badge warna KUNING.
Walaupun PMR sesuai dengan tingkatnya, adakalanya diperbantukan pula dalam tugas-tugas Kepalangmerahan, seperti turut membantu memberikan pertolongan P3K dan lain-lain, namun tugas kewajiban utama yang dibebankan kepada PMR adalah:
· Berbakti kepada masyarakat.
· Mempertinggi ketrampilan, dan memelihara kebersihan dan kesehatan.
· Mempererat persahabatan nasional, dan internasional.
2. Anggota Biasa PMI
Beberapa ketentuan menjadi anggota biasa adalah sebagai berkut:
· Wanita-pria usia di atas 19 tahun Warga Negara Indonesia.
· Mendaftarkan diri secara sukarela atas nama pribadi.
· Mengetahui asas, dan tujuan PMI, dan bersedia mengikuti tata tertib organisasi PMI.
Kewajiban yang dibebankan terhadap anggota biasa PMI adalah sebagai berikut:
· Membayar iuran anggota.
· Menyumbangkan pikiran, tenaga, dan dana untuk menolong sesama yang menderita sesuai dengan kemampuan.
· Menjaga nama baik organisasi.
· Memajukan organisasi.
Hak yang dimiliki anggota biasa PMI adalah sebagai berikut:
· Hak suara dalam rapat organisasi.
· Hak memilih, dan dipilih, menjadi Pengurus PMI.
· Mendapatkan informasi tentang organisasi.
· Mendapatkan kesempatan pendidikan, dan latihan Kepalangmerahan.
· Ikut aktif dalam Korps Sukarela.
· Mendapatkan kesempatan begotongroyong, dan saling menolong antara anggota PMI.
· Menikmati kepuasan batin sebagai insan yang memperhatikan nasib sesama.
Anggota biasa diharapkan aktif dalam TSR (Tenaga Sukarela) dan KSR (Korps Sukarela) sesuai dengan minat, dan kondisinya.
Setiap anggota biasa perhimpunan PMI pada dasarnya merupakan Tenaga Sukarela (TSR) yang menyumbangkan tenaga, waktu, pikiran, dan dana, baik secara keseluruhan maupun bagian-bagiannya untuk tugas kemanusiaan.
KSR adalah kesatuan atau unit di dalam perhimpunan PMI yang beranggotakan pribadi anggota biasa perhimpunan PMI yang menyatakan diri menjadi KSR PMI.
TSR dan KSR memiliki fungsi sebagai berikut:
· Fungsi TSR PMI adalah sebagai tenaga pelaksana perhimpunan PMI dalam melaksanakan tugas kemanusiaan.
· Dalam menjalankan fungsinya, TSR PMI, dan KSR PMI berstatus sebagai tenaga sukarela.
· Sebagai kesatuan maupun sebagai pribadi sukarelawan TSR PMI, dan KSR PMI wajib mengikuti tata aturan, dan ketentuan yang ditetapkan.
Tugas TSR/ KSR PMI adalah melaksanakan pertolongan/ bantuan secara pribadi atau secara berkelompok yang terarah. Setiap KSR dapat bertugas membantu tugas KSR dalam bidang-bidang tertentu.
3. Anggota Kehormatan PMI
Anggota Kehormatan PMI merupakan tanda Penghargaan bagi seseorang karena jasa-jasanya dalam menyumbangkan pikiran, tenaga maupun dana yang luar biasa (ekstra ordiner). Pengurus Daerah, dan Pengurus Cabang dapat mengusulkan seseorang untuk diangkat menjadi Anggota Kehormatan dengan alasan yang sangat kuat. Pengurus Pusat sendiri yang akan mengeluarkan Surat Keputusan Pengangkatan Anggota.
Beberapa ketentuan menjadi anggota terhormat adalah sebagai berkut:
· Wanita-Pria tanpa batas usia.
· Telah berbuat jasa bagi PMI, dan diusulkan oleh Pengurus untuk diangkat.
· Bersedia diangkat menjadi Anggota Kehormatan.
Kewajiban yang dibebankan terhadap anggota kehormatan PMI adalah sebagai berikut:
· Menjaga nama baik organisasi.
· Memberi perhatian terhadap PMI.
Hak yang dimiliki anggota kehormatan PMI adalah sebagai berikut:
· Memilih, dan dipilih menjadi Pengurus PMI.
· Mengikuti perkembangan organisasi.
· Ikut mengembangkan, dan memajukan PMI dengan menyampaikan saran kepada Pengurus.
Baca selengkapnya...